Powered by Blogger.

GA

Pages

  • Home
  • Let's Partner Up!
taken by my supertalented friend: Deasy Aprilputri Natalia

Susah tahu dapet visa ke Jepang!
Apa-apa di Jepang tuh serba MAHAL!
Orang-orangnya kan pada cuek banget di sana, susah bahasa Inggris lagi!
Duh, makanan Jepang tuh semuanya mengandung babi! Bakalan susah makan lho!

Iya deh iya!
Ada aja lah pokoknya komentar dari kerabat kerja, keluarga, bahkan netizen, setiap saya kedengeran mau jalan kemana. Seneng dengernya. Walaupun belum tentu semuanya benar. Tapi unwanted comment jenis ini selalu seru untuk didengarkan. Lewat postingan ini (yang saya tulis sambil colong-colong waktu istirahat kerja), saya pengen mempreteli mitos-mitos SUSAH, SULIT, MAHAL, travelling ke Jepang.

1. Visa Waiver Jepang
Memang betul, bikin Visa ke Jepang itu cukup ribet dan makan waktu... bagi kalian yang masih pengguna passport lama. Kebetulan banget, passport lama saya bulan April 2018 akan habis, dan saat saya hendak jalan ke Jepang di bulan November, otomatis saya memang sudah waktunya perpanjang passport. Instead of, perpanjang passport lama, saya memilih untuk membuat e-passport. 
Kesadaaran untuk membuat e-passport sebenarnya sudah terbesit sejak enam bulan sebelum keberangkatan. Entah karena malas yang terlalu atau mungkin karena keburu horror duluan mengingat pengalaman teman saya membuat e-passport di Bandara Soekarno Hatta harus nunggu antrian dari jam 3 pagi, alhasil saya terus menunda membuat e-pass. Sampai H-30 keberangkatan. Sekitar di akhir bulan September, saya akhirnya ngulik-ngulik, cari tahu, bagaimana dan dimana saja saya bisa membuat e-passport. Syukur Alhamdulilah banget, di DKI Jakarta bisa bikin e-passport dengan pengambilan antrian lewat whatsapp. Iyes, whatsapp! Dari berita yang diturunkan oleh banyak media di bulan Agustus, dikabarkan kalau kantor imigrasi daerah DKI Jakarta sudah menyediakan nomor whatsapp khusus untuk perpanjang dan pembuatan passport baru. 
Setengah percaya dan enggak, tapi saya ngerasa udah enggak ada waktu untuk skeptis. Kondisinya waktu itu saya juga baru diterima di kantor baru, jadi enggak mungkin juga saya ijin satu hari dari pagi subuh buta untuk bikin e-passport di Cengkareng. Nggak mungkin, pokoknya itu mustahil banget! Dalam hati, kalau memang cari ini berhasil berarti Allah memang mengizinkan saya ke Jepang. Kalau enggak, ya, mungkin tiket hasil ngantri di Garuda Travel Fair kemaren memang harus dibuang untuk jadi pelajaran hidup di kemudian hari. Ternyata eh ternyata, everything goes flawlessly. 

tahapan dari kiri ke kanan yaa

Caranya, save dulu nomor Imigrasi Jakarta Pusat, lalu hubungi mereka lewat Whatsapp dengan menuliskan #NamaDepan #TanggalLahir #TanggalRencanaPembuatanPassport. Dan seperti yang tertera di atas, saya mencoba daftar untuk pembuatan di tanggal 3 Oktober. Dan balasannya enggak sampai 5 menit. Dan seperti yang dilihat, kalau tanggal segitu pihak Imigrasi Jakarta Pusat sudah kehabisan kuota pelayanan. Mereka juga langsung memberikan rekomendasi tanggal kedatangan.

Habis itu, tinggal tulis lagi #NamaDepan #TanggalLahir #TanggalKedatanganRekomendasi. Dan seperti yang terlihat di panel tengah, mereka langsung memberikan kode konfirmasi data diri. Copy nomor konfirmasi, dan mereka akan mengirimkan kode booking pembuatan e-passport beserta jam kedatangannya (usahakan on time ya!).

Pas, hari H, saya datang on time jam 10.00 di Imigrasi Jakarta Pusat. Saya udah cukup takut karena di depan counter lantai dasar udah ada antrian. Ternyata itu antrian yang belum daftar via whatsapp. Saya dan teman saya yang sudah punya kode booking, langsung diberikan nomor antrian interview dan foto beserta berkas yang harus diisi (jangan lupa bilang ke petugas kalau Anda ingin membuat e-passport yaa! Kalau lupa, bisa bilang pas sama pewawancara juga kok!). Saya wow banget karena semua selesai kurang dari satu jam. Sekitar jam 10.45 saya dan teman saya sudah selesai foto, interview. Kami diberi tahunkan untuk Whatsapp nomor baru khusus bagian pembayaran beserta kertas putih berisi kode data passport kami (kertas putih ini juga sangat penting saat pengambilan passport, jadi jaga baik-baik ya. Jangan sampai hilang!).

proses pembayaran butuh 1x24 jam setelah interview dan Passport jadi setelah 5 hari kerja setelah pembayaran.

Ribet sih mesti masukin nomor Whatsapp baru untuk bayar doang. Tapi percayalah, untuk anak yang males gerak dan males ngantri, menurut saya ini cara paling mutakhir untuk membuat e-passport. Cukup simpan nomor yang ada di kertas putih ke Whatsapp nomor pembayaran. Nanti dia akan membalas kode pembayaran yang harus ditulis saat transfer via bank. Dan selanjutnya dia akan memberikan tata cara pembayaran, beserta link Youtube mengenai tutorialnya. Setelah transfer, simpan bukti transfer dan rekatkan dengan si kertas putih yang diberikan setelah interview. Lalu sekitar seminggu (5 hari kerja) mereka akan otomatis memberitahu kapan passport sudah diambil.

Total pembayaran untuk e-passport sebesar Rp 655.000. Angka itu enggak perlu dimasukin kok, pas masukin kode pembayaran saat transfer, dia akan muncul angka dan jenis passport yang dibuat. Emang banyak nunggu sih, tapi menurut saya, untuk bikin e-passport sebulan sebelum keberangkatan ini cara paling simpel, nyaman, dan enggak deg-degan. 
Saya dan teman saya, setelah keluar e-passport, kita langsung menuju Lotte Shopping Avenue, ke VFS Global untuk proses pembuatan Visa Waiver yang enggak kalah cepet dan gampang. 
Patut diingat: VFS emang ada Kuningan City juga, tapi itu untuk visa Australia dan London. Di Lotte Shopping Avenue khusus untuk visa Jepang.
Seperti yang udah digembar-gemborin sejak 2014 sama kedutaan Jepang kalau mereka sudah mengeluarkan Visa Waiver bagi turis Indonesia yang sudah punya e-passport. Visa Waiver bisa didapatkan secara gratis alias enggak bayar kalau kita ngurus langsung ke Keduataan Jepang. Mengingat waktu itu saya cuman punya H-14 sebelum keberangkatan, jadi saya rasa bantuan VFS sangat diperlukan. Untuk membuat Visa Waiver, VFS memberikan uang administrasi sebesar Rp. 113.000 per orang. Visa Waiver bisa diambil 5 hari kerja juga (duh, deg-degan yaa)! Mereka biasanya kirim via email, kalau passport dan Visa Waiver sudah bisa diambil. Kasus saya, cuman 4 hari kerja sudah dapet email dari VFS kalau passport berstiker Waiver sudah bisa diambil. Alhamdulilah! Bahagia!

Dan Visa Waiver ini berlaku 3 tahun dengan maksimal tinggal di Jepang 15 hari. Jadi, kalau buat teman-teman yang baru ada segurat niat ke Jepang tapi belum punya tiket ke sana, mending dicicil bikin e-passport dulu aja. Terus lanjut bikin Waiver. Kalau udah ada passport dan waivernya, pasti perasaan berat beli tiket ke Jepang akan lebih ringan pas ngantri tiket di Travel Fair. Hehehe.

2. Jepang itu Murah Kalau Cermat
Oke, perkara passport dan visa udah clear kan ya! Sekarang mari patahkan asumsi kalau Jepang itu mahal. Well, emang enggak semurah Jakarta sih (apalagi semurah Jogja), tapi kalau kalian tipe orang yang bosen dikit ke Singapura atau kalau suka banget ke Thailand buat belanja barang-barang lucu murah, lah ya Jepang juga sama aja! 
Namun, saya akui, biaya transportasi Jepang itu MAHAL. Terus gimana dong? Ya, kalau pengen aman sih beli JR Pass. Menurut saya itu udah pilihan ekonomis bagi kalian yang emang niatnya mau eksplore Jepang dari west sampai east (saya banget tuh!). Kalau enggak mau keluar 3,5 juta tapi mau keluar-luar kota, ada cara sedikit lebih hematnya. Pertama tentuin kalian mau main ke daerah mana aja. JR West: Osaka, Kyoto, Shizuoka, Tokyo. JR East: Ueno, Shinagawa, Ueno, Toyama, Kanazawa. Di HIS Travel, jual kok JR Area Pass dengan harga yang enggak nyampe 3 juta. Bahkan bisa pilih berapa harinya. Mulai dari 1,9 sampai 2,9 juta harganya. 

Esensial dalam perjalan. Pocket Wifi wajib banget bawa karena Jepang salah satu negara yang cukup pelit ngasih wifi gratis. Saran: passpod.id. Murah, cepet, tahan lama.

Karena kemarin adalah kunjungan pertama saya, dan saya juga mau perginya ke kota-kota yang jauh dari mana-mana jadi saya rasa JR Pass udah pilihan yang pas. Bayangin aja, satu hari saya bisa naik 2 kali shin-kansen. Entah itu Osaka-Kyoto, Osaka-Shizuoka, atau Osaka-Tokyo. Karena, shinkansen cepet banget kalau kita naik bus atau pakai travel, yang ada kita ngabisin waktu banyak di jalan. Tapi, sekali lagi, pilihan di teman-teman lagi sih. menurut saya, 3,5 juta untuk 7 hari dengan perjalanan yang saya hitung kalau saya enggak pakai JR Pass bisa lebih dari 5 juta (karena naik shinkansen sekali jalan berkisar 1,5 juta) itu nyaman banget.

Dan untuk keliling kota, setiap stasiun kota itu punya bus dan juga kereta dalam kota yang juga di cover JR Pass. Tapi kalau kaya Kyoto dia udah ada sightseeing bus untuk one day pass (rata-rata semua kota udah pada punya sightseeing bus one day pass kok, even kota Gotemba aja punya! Kesadaran pariwisata mereka emang udah rata banget! Salut). Kalau enggak mau pusing ngeliatin google maps sih, beli tiket-tiket harian ini juga nyaman banget.

Untuk makanan, harga standard lah kaya di mall-mall Jakarta. Kisaran 500 - 800 yen udah makan enak kenyang banget. Cukup besar ya, tapi saya dan teman-teman saya ngakalinnya, kita makan gede yang kenyangnya pas makan malem aja. Makan pagi biasanya saya udah beliin mereka sandwhich dan makan siangnya cemilan aja yang ada di pinggir jalan. Entah karena seru dan udara dingin, dan waktu sinar mataharinya juga pendek, jadi kita juga jarang banget kelaperan.

Dan untuk barang-barang seperti sepatu, jam tangan, dan oleh-oleh, Jepang sih juara murahnya. Jadi, selama ini saya tuh lagi ngincer banget sepatu Huarache Nike Air. Kadang ada kadang enggak ada di Nike GI. Pas di Jepang harganya 11.000 yen which is 1,3 juta belum include potongan tax free 10%. Dih, mahal banget, ternyata pas di Indo emang harganya 1,7juta dan enggak ada diskon atau apa. Parahnya lagi di Indonesia jarang banget ukuran kaki saya. Di Zalora sempat ada Nike Air Huarache, tapi ukurannya paling besar 38. Sekalinya ada ukuran besar sampe 43-45. Jam tangan G-Shock dan Baby G juga murah, perbedaannya bisa sampai 400-500 ribu dan biasanya kalau belanja lebih dari 10ribu yen dapet diskon tax free 8-10%. Love banget kan!! Dan, yang paling hits sih kamera sekali pakai yang lagi nge-tren sama anak-anak kids jaman now. Di Indonesia ada tempat khusus kamera analog jual kamera jenis ini Rp 200.000, di minimini Shinjuku cuman 600 yen atau Rp 72.000. Mursidah harta! Menyesal kenapa enggak beli banyak!

Shibuya surga belanja. Geser dikit ada aja yang bisa dibeli. Ini di toko Onitsuka Tiger, sepatunya rang Jepang yang bentar lagi buka toko di Kuningan.
Toko Adidas di Shibuya lucu pisan. Gemsh!

Eits, tunggu dulu! Jangan gampang tergiur jadi penadah yaa saat belanja di Jepang. Karena tau sendiri kan Bea Cukai kita lagi ketat banget. Seperti yang diketahui bersama, batasan belanja luar negeri per-orang saat pulang ke negara Indonesia raya ini kan cuman bisa sebatas US$250 (atau sekitar 3,5 juta lah). Kalau emang mau beli lebih dari itu, ya, siap kena tax lagi di bea cukai Indonesia. Syukur-syukur kalau enggak ketahuan sih hehe.

Tapi biasanya yang paling sering kena kalau kita belanja barang mewah banget dari luar negeri. Karena, biasanya, nih yaa, dari Bea Cukai Luar Negeri nya udah nandain turis yang belanja barang mewah dan ngabarin ke negera asal mereka. Karena kalau kita pelajari lagi diaturan perpajakan negara, emang barang mewah ada pajaknya sendiri. Jadi, kalau emang di luar negeri udah mampu beli tas LV Lulu Vebrianti, ya bayar pajak untuk masuk ke Indonesia mah harusnya juga mampu lah ya! jangan kayak orang susah lah! hehe.

3. Orang Jepang Individualis, Tapi Informatif
Duh, emang bangsa Jepang ini termasuk bangsa yang bangga dengan budaya dan juga bahasanya. Hasilnya, budayanya terjaga apik dan..... orang-orangnya pun sulit bahasa lain selain Jepang. Chaos? Enggak juga! Sebagai makhluk sosial, ada kata-kata umum yang mereka pahamin kok, kayak "Toilet", "Bus Station", "Water", hal-hal esensial macem itu mereka langsung paham kok. Waktu kunjungan kami ke Arashiyama, google maps saya menggila dan enggak tentu arah. Alhasil saya harus melakukan satu-satunya hal yang semua turis hindari, "talk with the local". Seorang polisi lalu lintas yang tengah berjaga saya ajak bicara. Dengan clue bus station, dan kata Kyoto si polisi paham tapi sulit membalas saya. Dia bergumam dengan bahasa Jepang, sambil memberikan penunjuk arah jalan lurus dan belok kiri. Dia bahkan meminta saya membuka google maps saya dan ikutin jalan yang dia bilang. Sulit dipahami tapi ujung-ujungnya saya sampai di tempat pemberentian bus yang saya maksud tanpa harus bertanya ke orang lokal lainnya.

Hal ini enggak terjadi sekali. Saya dan teman-teman saya kebetulan adalah sekelompok turis sotoy hobi nyasar. Harusnya naik peron 3, tapi kereta masuk di peron 4 di naikin juga. Jadi kadang kesalahan-kesalahan dodol yang gak bermakna gitu deh. Tapi, orang Jepang enggak menghindari kami, apalagi penampilan saya yang begitu mencolok dengan hijab. Mereka tahu betul kalau kita turis. Tapi, kalau kita minta bantuan, mereka antusias membantu sebisa mereka. Enggak jarang mereka menggunakan tulisan di kertas biar enggak salah-salah lagi.

Hari minggu pada pakai baju lengkap olah raga. Mau turnamen kayaknya nih mereka! 

Soal, sikap mereka yang super individualis itu juga saya rasakan selama di sana. Di dalam kereta mereka bahkan ada tanda larang menjawab telfon dan meminta nada dering telfon jadi silent. Mereka jarang kelihatan ngobrol antar sesama mereka. Sesekalinya saya lihat ngobrol adalah anak sekolah di Osaka yang hari Minggu masuk sekolah untuk ekskul baseball (asumsi saya sih gitu!). Tapi, bukan berarti mereka orangnya gak asik. Hossy, pemilik apartemen airbnb kami di Osaka adalah salah satu contoh hidup kalau orang Jepang juga makhluk sosial. Yang sukanya pakai kutek warna-warna dan gelang-gelang spikey, padahal mah lakik. Tapi, ya, orang jenis hossy enggak dominan ditemuin di Jepang. 

4. Halal Food is Only Corner Away
Kalau bicara sulitnya cari makanan halal di luar negeri, saya rasa kesulitan dimana aja hampir sama aja. Mau di Singapura, Thailand, bahkan Bali juga sama susahnya nyari label halal di makanan yang kita makan. Kalau bagi saya sih caranya, jangan terlalu dibikin susah, tapi jangan ngegampangin juga. 
Yang masak dan waiternya orang India Nepal. Karena foto-foto di dindingnya Himalaya gitu! Pengen ajak ngobrol tapi dia juga terbatas bahasa Inggrisnya. 
Hiraukan burger keju yang diatas, punya saya burger mushroom vegetarian khas Shake Shack! Enak banget!!!

Pengertian makanan halal itu kan kalau di dalam makanan itu mengandung daging babi ataupun zat zat terkait lainnya. Nah, kalau saya sih ngatasinnya, selalu pilih menu vegetarian dalam menu, atau pilih makanan yang terpampang nyata enggak mengandung daging. Untuk sarapan saya milih makan roti yang bisa diangetin di microwave, dan makan malem selalu pilih menu vegetarian. Di Ginza NZ saya sempat dapet tempat Curry and Naan yang ada logo halal di depan pintunya. Di Shibuya dan Tokyo juga banyak restoran halal lainnya. Bahkan ada kok aplikasi "Halal Gournet" untuk mecari restoran halal selama di Jepang, mencari mesjid atau tempat solat, dan juga bisa mencari kiblat. Pokoknya udah enggak sebuta itu juga kok Jepang sama budaya muslim.

Apalagi yang mau ditanyain? Disanggah? Hmm, komentar mulu jalannya kapan! Hehehe



Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Mungkin banyak yang tidak tahu kalau Sumatera Barat memiliki pemandangan alam yang indah. Area pegunungan dan bukit yang indah, kepulauan di Pesisir Selatan Painan yang menawan, dan beragam danau yang memukau mulai dari Singkarak sampai Solok. Dan libur lebaran kemarin saya berkesempatan mengunjungi beberapa tempat di Sumatera Barat yang menurut saya bisa memuaskan para pencari "likes" di Instagram.

1. Pantai Carocok - Pesisir Selatan Painan
Pantai Carocok ini biasanya memiliki beragam aktivitas seperti banana boat atau sekarang bermain di pantai saat liburan

Di pesisir selatan dari Sumatera Barat terdapat garis pantai yang indah. Dari sini pula Anda mendapatkan akses untuk menyebrang ke pulau-pulau yang ada di Sumatera Barat mulai dari pulau Cibudak, pulau Siberut, pulau Sikuai, pulau Mentawai, dan masih banyak lagi lainnya.
Untuk mengunjungi pesisir Selatan ini butuh waktu kurang lebih 2 jam perjalanan dari bandara Minangkabau. Itupun karena supir yang kami sewa membawa mobilnya cukup ngebut dan jalanan masih kosong, jadi jika Anda berencana menyewa mobil sendiri di waktu liburan mungkin siapkan waktu 4-5 jam. Itu baru sampai ke daerah Pesisir Selatan, untuk berkunjung ke daerah kepulauan Anda masih butuh beberapa jam lagi dengan kapal kayu.
bukit Langkisau memperlihatkan pemandangan pantai pesisir Selatan

Tapi jarak tempuh dan kendaraan tiap pulau berbeda-beda. Seperti Pulau Cingkuak yang lokasinya hanya 200 meter dari pantai Carock dan bisa dikunjungi dengan menyebrangi jembatan. Tapi jika Anda ingin mengunjungi tempat yang jauh lebih indah seperti pulau Mentawai, pastikan Anda menyediakan waktu satu hari karena waktu penyebrangan dari pesisir selatan menuju pulau mentawai bisa memakan waktu 7 jam dengan menggunakan kapal besar. Yap, pulau itu cukup jauh!
Sedangkan bukit Mandeh memiliki pemandangan kepulauan yang ada di sebrang pulau Sumatera Barat
Tapi, jika Anda seperti saya, yang tidak terlalu punya banyak waktu tapi tetap ingin menikmati suasana pantai dan kepulauan Anda bisa mengunjungi Pantai Carocok. Di atas pantai Carocok ada bukit Langkisau dimana Anda bisa mendapatkan pemandangan pantai yang cantik. Saya juga sempat mengunjungi bukit Mandeh yang jaraknya sekitar 40 menit dari bukit Langkisau. Dari bukit ini lebih jelas lagi pemandangan kepulauan yang ada di sebrang pulau Sumatera Barat.
Hampir sama dengan tempat wisata kebanyakan, daerah ini memiliki tukang parkir gaib yang tiba-tiba muncul dan hanya mau dibayar Rp 5.000/ mobil.

2. Ngalau Indah - Payakumbuh
Mungkin bagi beberapa orang Ngalau Indah biasa saja, bahkan di daerah lain banyak yang memiliki tempat wisata serupa. Ngalau Indah sebenarnya adalah sebuah goa yang berada di Payakumbuh. Karena letaknya sedikit di atas perbukit membuat area luar dari tempat ini memiliki pemandangan yang luar biasa cantik.
Foto saya di atas pohon, mama memang tukang foto yang jago!

Sebelum sampai di area parkir, terdapat sebuah pohon yang di pasang papan pijak untuk pengunjung menikmati pemandangan jalan raya Bukittinggi - Payakumbuh dari atas. Tidak seperti jalan raya di Jakarta, di sini jalan rayanya dipadati oleh bukit, pegunungan, dan area pesawahan yang asri. Jadi, benar-benar sebuah rekreasi mata.
sempat merinding sih waktu ambil foto ini. Takut handphone saya jatuh! hehe.

Untuk naik ke pohon ini, tiap orang harus membayar Rp 5.000 setiap 10 menit dan maksimal hanya tiga orang yang boleh ada di atas pohon. Dan jujur saja, waktu saya dan adik saya berada di atas sudah cukup bikin deg-degan karena papannya seperti bedenyit-denyit. Mungkin karena saya dan adik saya gerombolan si berat kali ya!


Tapi selain pohon di Ngalau, area wisata utama dari Ngalau Indah adalah area goa alam yang legendaris. Saya kurang paham legenda apa yang ada di balik goa ini, tapi saya akui tempat ini cukup menarik untuk dikunjungi. Terutama bagi And ayang ingin punya foto ala-ala tomb raider. Hehe. Tiket masuk ke goa berkisan Rp 5.000 / orang. Karena saya datang saat bulan puasa jadi tempat ini cukup sepi dan menyenangkan untuk foto-foto. Tapi, kalau sudah masuk waktu liburan, sepertinya tempat ini bisa sangat sesak. Sepertinya bukan tempat yang asyik jika dikunjungi ramai-ramai orang!


3. Lembah Harau - Payakumbuh
suka sekali dengan sangkar-sangkaran ini

Rugi besar jika Anda telah sampai ke Payakumbuh tapi tidak ke Lembah Harau. Karena bagi saya, pemandangan yang ada di lembah ini memiliki keunikan tersendiri. Sesaat saya masuk ke area Harau saya merasa berada di dalam area Jurrasic World dimana hewan-hewan purbakala tinggal dan berkembang biak di sini. Ada kesan tua yang menakjubkan di tiap sudut lembah yang membuat saya tidak berhenti berdecak kagum.

Salah satu atraksi utama dari Lembah Harau adalah air terjunnya. Pilihan pemandangan di Lembah Harau saat Anda masuk ada dua tempat yaitu di sebelah kiri dan sebelah kanan. Dan rekomendasi saya untuk Anda yang mengincar tempat untuk foto-foto cantik ada di sebelah kiri saat pintu masuk. Karena saya datang bukan untuk main apalagi mandi di air terjun, dan air terjun di sebelah kiri jauh lebih bersih untuk foto-foto. Selain itu, di sebelah kiri juga ada semacam camp alam dimana ada tempat penyewaan kuda dan tempat foto dari akar-akar pohon yang menurut saya sangat instagramable. Di sebelah kanan juga ada tempat serupa, air terjun, tempat foto, dan bahkan tempat untuk bermain sampan. Tapi, karena saya datang ketika mulai memasuki waktu lebaran, kecantikan yang ada di area sebelah kanan terasa lebih sumpek dan sesak ketimbang sebelah kiri.


Satu hal yang saya sadari selama perjalanan di Lembah Harau ini adalah banyaknya perumahan ataupun resort untik yang ditawarkan. Mungkin jika Anda berminat untuk bermalam di sini, Anda bisa mencari tempat tinggal yang paling unik. Mulai dari yang berbentuk rumah gadang sampai dengan berdesain eco.  Dan untuk masuk ke daerah ini dikenakan biaya Rp 5.000 / orang.

4. Nagari Tuo, Desa Terindah - Pariangan
Sejujurnya saya enggak terlalu paham kenapa temapt ini bisa-bisanya menang sebagai desa terindah nomor lima di dunia versi TravelBudget.com. Entah karena ada rasa egois semata tapi saya merasa kampung halaman saya di Koto Laweh tidak kalah cantik dari Nagari Tuo Pariangan.

Jika dilihat dengan mata kepala sendiri, desa ini sebenarnya hampir mirip dengan desa-desa di kebanyakan tempat di daerah perbukitan Sumatera Barat. Tapi setelah saya baca kembali alasan TravelBudget memilih tempat ini adalah karena bangunan rumah yang ada di tempat ini masih dijaga dari ratusan tahun silam. Hal ini terlihat dari banyaknya bagunan rumah bertanduk yang mendominasi di rumah warganya. Dan, hal itu yang saya rasa hilang dari kampung saya.
Selain itu, Nagari Tuo juga diyakini sebagai tempat pertama suku Minang hadir dan menyebar di seluruh Sumatera Barat (yap, just because you lived in Sumatera Barat doesnt makes you a part of Minang tribe). Di sini juga terdapat beberapa peninggalan sejarah yang teramat tua dari era megalitikum. Hal ini dipercaya sebagai penanda desa Pariangan telah ada dari era tersebut.

Jika Anda mau mendaki sedikit lebih dke atas tangga yang telah disediakan, Anda bisa mendapat tempat foto tang cukup mumpuni untuk dipajang di social media Anda. Pemandangan gunung merapi dan bangunan desa dengan atap bertanduk bisa Anda dapatkan di sini.

5. Danau Ateh Danau Bawah - Solok
Sumatera Barat mungkin salah satu daerah di Indonesia dengan populasi danau yang cukup banyak mulai dari Danau Singkarak, Danau Maninjau, dan kini saya berkesempatan untuk mengunjungi Danau Atas dan Danau Bawah di Solok.
Cuacanya cukup membingungkan waktu saya ke sini, kadang berawan kadang cerah
 Jarak Solok dari tempat tinggal saya sekitar dua setengah jam. Sangat jauh tapi dipastikan jalannya sudah sangat bagus. Slok sendiri memiliki iklim yang serupa dengan kampung saya, relatif dingin dengan pemandangan gunung dan sawah sejauh mata memandang. Kalau di kampung saya lebih dekat ke Danau Maninjau, di Solok mereka memiliki danau kembar yang mereka bernama Danau Ateh dan Danah Bawah. Hal ini tidak masuk akal bagi saya karena dari apa yang saya lihat dari mata keduanya memiliki ketinggian yang sama. Tapi setelah saya cari tahu lewat Google (thank's God!) ternyata dua danau kembar ini berada di atas bukit yang berbeda dengan perbedaan ketinggian hampir 1 kilometer lebih. Wow!
pemandangan danau di atas dari dalam mobil
Bunga dan bakso, masuk akal kan? 

Untuk bisa melihat kedua danau yang bagi saya hasil dari fenomena alam yang mengagumkan ini kita harus mencari posisi terbaik. Supir saya memiliki rekomendasi puncak bukit yang bisa melihat kedua danau dengan leluasa. Walaupun tidak terlalu terlihat di foto tapi tempat ini sangat menyegarkan mata. Dan seperti biasa, untuk memasuki area ini tiap pengunjung dikenakan tiket Rp 5.000/ orang.
Di area puncak bukit ini juga terdapat banyak penjual tanaman, saya dan ibu saya membeli banyak bunga untuk di rumah kami. Harganya tidak terlalu mahal, dengan Rp 100.000 ibu saya bisa mendapatkan 8 jenis tanaman.

Selain ke lima tempat ini saya juga mengunjungi beberapa tempat yang umum saat berwisata ke Sumatera Barat seperti Jam Gadang, Great Wall Ngarai Sianok, Kelok 9, dan beberapa tempat lainnya. Tapi, saya merasa di tempat lima ini tempat dengan harga terjangkau dan hasil foto maksimal. Jadi, apa tempat favorit Anda saat di Sumatera Barat?

Share
Tweet
Pin
Share
1 comments

Lebaran adalah momen yang digunakan oleh mayoritas umat Islam di Indonesia untuk bersilaturahmi kembali ke sanak saudara yang ada di kampung halaman. Entah dari mana budaya ini berasal dan berkembang (yang pasti bukan dari Arab, karena di Arab sendiri saat hari Eidul Fitri tiba mereka hanya merayakannya di rumah sambil menggemakan takbir) tapi libur Lebaran menjadi liburan terbesar untuk seluruh masyarakat Indonesia.

Dan di tahun ini saya dan keluarga berkesempatan untuk benar-benar pulang kampung. Karena selama ini kami hanya ikut-ikutan 'hype' pulang kampung yang ada di hari Lebaran saja. Biasanya kami pulang ke kampung orang lain di saat lebaran. Kami menggunakan momen lebaran untuk jalan-jalan keliling kota atau berwisata ke daerah yang belum pernah kami kunjungi seperti Jogja atau Cirebon. Tapi, di tahun ini, rumah impian Mama di kampung halamannya, Koto Laweh, Padang Panjang, Sumatera Barat, telah jadi. Maka, seminggu sebelum lebaran tiba kami memutuskan untuk benar-benar pulang ke kampung dan menikmati villa kami di sana.

Berada di kaki gunung Singgalang dan dikelilingi ladang padi dan perkebunan cabai di seklilingnya, membuat saya yakin kalau dari sinilah lukisan pemandangan alam yang biasa dibuat anak-anak SD tercipta. 
atas: pemandangan dari jendela kamar villa kami. bawah: lukisan pemandangan kebanyakan anak SD

Tanah Pusaka
Koto Laweh atau kalau dibahasa Indonesiakan, Kota Lawas. Sebuah desa kecil yang berada di antara Gunung Merapi dan Gunung Singgalang yang dimana jalanannya sering digunakan banyak pemudik sebagai jalan pintas antara Bukittinggi dan Padang Panjang. Jangan pernah berharap bisa mendapatkan alamat lengkap untuk mengunjungi ke rumah yang ada di daerah ini. Karena, masyarakat di sini hanya tahu beberapa nama tempat yang dikenal dan biasanya mereka hafal siapa saja orang yang tinggal disekitar situ. Contohnya, seperti villa rumah saya berada di jalan turunan setelah pertigaan yang ada di Balai Gadang. Untuk memperjelas jalan ke arah rumah, saya harus menggunakan kata kunci lain seperti Kandang di Guguak atau Gunung Singgalang. Dengan tiga keywords itu, siapapun yang tinggal di daerah Koto Laweh sudah tahu rumah siapa saja yang ada di kawasan itu. Dan biasanya mereka kenal karena mereka juga bertalian saudara entah dun sanak keluarga pasangan) atau bako (keluarga ayah). Dan memang tidak terlalu banyak sih, di sekitarnya saja mungkin hanya 4-5 rumah yang ada.

Penunjuk jalan yang ada di depan Balai Gadang. Jadi, cukup jelas dimana lokasi Koto Laweh ini kan?


Dan berbeda dengan Bukittinggi atau kota Padang yang mungkin pemukimannya juga sudah dihuni oleh warga pendatang dari pulau Jawa atau daerah lainnya. di Koto Laweh ini sudah dipastikan 100% orang Minang asli yang bisa membangun rumah di sana. Kenapa? Karena hampir seluruh tanah yang ada di desa ini adalah tanah warisan pusaka. Apa artinya? Artinya tiap inchi tanah di daerah Koto Laweh ini merupakan warisan dari peninggalan keluarga terdahulu, yang mungkin sudah ratusan tahun yang lalu. Dan, perbedaannya orang di desa ini dengan desa-desa yang ada di Jawa sana, walaupun tanah mereka tak bersertifikat (karena ratusan tahun yang lalu mungkin sistem administrasi negara mungkin belum tersentuh oleh mereka) tapi tiap keturunannya sudah di beritahukan yang mana saja warisan mereka. Dan seperti kita ketahui bersama, suku Minang adalah satu-satunya suku di Indonesia yang menganut Matriarki. Itu artinya garis keturunan dan warisan turun di anak perempuan. Anak perempuan dari orang tua suku Minang memiliki hak waris dua kali lipat lebih besar dibandingkan anak laki-lakinya. Tidak hanya itu, anak laki-laki dari suku Minang diharuskan untuk merantau ketika usia dewasa sedangkan anak perempuannya yang menjaga tanah pusaka.
Rumah atau villa kecil milik keluarga Mama saya (sebelah kanan), yang berarti akan jadi milik saya dan sepupu perempuan saya kelak. Di belakangnya adalah pemandangan Gunung Singgalang.

Dari apa yang saya sering beritahukan, tanah warisan atau tanah pusaka tidak bisa seenaknya di jual belikan kepada orang lain. Harus ada persetujuan dari keluarga perempuan lainnya untuk mengadakan jual-beli tanah pusaka. Dan kalaupun tidak di jual, tanah pusaka akan terus diturunkan ke anak-cucu- dan cicit perempuan dari garis keturunan keluarga tersebut. Bagaimana jika diujung garis keturunan tidak ada lagi anak perempuannya? Hak waris tanah dikembalikan ke keluarga besar. Jadi, sangat sulit untuk bisa membebaskan tanah pusaka dari suku Minang. Akibatnya, apa yang saya lihat dari kampung Koto Laweh di tahun 1995 dengan di tahun 2017, tidak terlau banyak perubahan. Jangan harap pemerintah bisa mengambil alih tanah-tanah tak bersertifikat yang ada di tanah pusaka, karena aturan adat yang ada di Sumatera Barat lebih galak ketimbang pemerintahannya. Terdengar rasis dan kuno, tapi, saya akui, ke-keras kepala-an orang-orang Minang-lah yang mampu menjaga ke asrian daerah dan lingkungannya.

ibu saya menikmati waktu seusai silaturahmi dengan keluarga dengan memberi makan ikan di tabek 


Kalau tidak karena tegasnya adat mereka soal tanah pusaka, saya rasa, hanya butuh kurang dari 10 tahun desa yang saya tinggali ini sudah dijajahi hotel dan bungalow bintang lima. Sampai hari ini, mini market sejenis alfamart dan Indomart masih belum menyentuh tanah minang, setidaknya tidak ada di sepanjang Padang Panjang hingga Bukittinggi. Jangan pernah berharap jalan-jalan di kampung saya dengan teknologi aplikasi transportasi, syukur-syukur dapat sinyal. Bagi saya yang memang tengah mencari momen untuk menenangkan diri dan menjauhi keramaian, lebaran di desa ini benar-benar pilihan yang tepat.

Walaupun di tiap pojokan jalan tidak ada alfamart, setidaknya di kampung ini saya bisa berfoto instagram di ladang padi yang tengah menguning. Tiap ganti sudut, berganti pula latar belakang pemandangan yang ditawarkan. mungkin itu mengapa jaman dulu banyak penyair dan penulis sajak ternama lahir di Sumatera Barat. Pemandangannya romantis dan cuacanya mendukung untuk selalu berkontemplasi.


Mata Pencaharian Penduduknya
Di desa kecil ini, bisa dibilang, lebih banyak ladang dan kebun ketimbang perumahan warganya. Jadi, hampir 90% keluarga yang ada di desa ini bermata pencaharian petani. Adapun hasil tani yang biasa dipanen dari desa ini adalah Cabai, Bawang Merah, dan Sayur Mayur. Mereka juga memiliki ladang padi yang luas, tapi tidak seluas di daerah Solok. Makanya Bareh Solok lebih terkenal dibandingkan daerah lainnya.
cabai merah yang umurnya sudah harus dipetik dibiarkan di pohon oleh para petani. Mereka menganggap upah petik cabai dengan harga perkilonya tidak sebanding. Dan Mama saya terlihat bahagia melihat cabai merah.

Sayangnya para petani ini masih teramat sangat bergantung dengan penjualan hasil tani di pasar tradisional. Contohnya waktu saya pulang kemarin, harga cabai keriting di Koto Laweh mencapai Rp 7.000 - Rp8.000/ kilo. Padahal di hari yang sama, di Jakarta harga cabai keriting merah masih berada di Rp35.000 - R 40.000/kilo.Hal ini dikarenakan lonjakan harga cabai keriting merah yang luar biasa berlebihannya di tahun 2016 lalu yang mencapai Rp 120.000/kilo. Karena kejadian tersebut banyak petani yang mengubah ladang sayur mayurnya menjadi cabai merah. Dan, kini, saat panen ketiga setelah kejadian tersebut, yang ada pasar-pasar di sekitar Padang Panjang memiliki stok cabai keriting merah yang berlebih. Karena merosotnya harga tersebut banyak petani yang membuang cabainya atau bahkan sengaja membiarkan cabainya membusuk di pohon.

Dan jujur saja, hal ini sempat membuat saya miris. Untuk daerah penghasil cabai, dengan masyarakat yang mayoritasnya mengkonsumsi cabai sebagai makanan sehari-hari, anjloknya harga cabai ini merupakan sebuah ironi terbesar yang pernah saya saksikan langsung. Sempat terbesit di benak saya, kenapa sih, orang Padang ini tidak ada yang mau membuat sambel kemasan sebagai oleh-oleh? Surabaya bukan penghasil cabai tapi sambel ibu Rudy terkenal sekali sebagai oleh-oleh Khas daerahnya. Dan, yang saya tahu semua orang dari semua suku sudah pasti pernah makan "sambal lado" bahkan sampai jadi lagu oleh pedangdut Ayu Ting Ting. Masak sih, enggak ada orang pintar dan kaya raya dari daerah ini yang mau membuat "Sambal Lado" kemasan khas Koto Laweh atau Padang Panjang. Kalau ada bisnis sejenis ini, setidaknya petani Koto Laweh dan Padang Panjang tidak harus melulu menggantungkan nasibnya kepada harga pasar tradisional.

Saya sempat berpikir membuat bisnis sejenis ini dengan ibu saya, tapi karena usia dan minimnya pengalaman bisnis sejenis Mama saya berkilah kalau membuat bisnis ini terlalu banyak resikonya. Ayah saya bilang "belum lagi kalau produknya ditiru orang," jujur saja, kalau bisnis khayalan ini bis aditiru orang banyak saya justru senang. Setidaknya petani cabai di kampung saya ini banyak pilihan konsumen. Tidak hanya yang ada di pasar.

Tata Krama Bicara dan Budaya
Dua hal ini yang ampun-ampunan rasanya saya lakukan tapi paling kecil dampaknya. Di kampung ini, orang-orangnya tidak hanya diharapkan sopan dan patuh pada yang tua tapi juga supel dengan sesama. Well, jelas itu sangat berat untuk saya. Bukan di bagian hormat dan patuhnya tapi di bagian supel. Dan mereka tidak main-main soal supel. Karena jika kita terlihat oleh orang kampung dan tidak menyapa mereka, maka keluarga kita bisa dibicarakan oleh mereka. Dan, seperti kebanyakan uni-uni berkerudung yang ada di Tanah Abang dibilang "sombong" adalah salah satu penghinaan sosial tertinggi di ranah Minang (berlebihan? Nope! Kalau kamu orang Padang coba sesekali pulang ke kampung gih, dan coba sesekali main melengos aja ketemu keluarga. Kalau enggak kena marah!)
Le Familia. Kalau dijelasin satu persatu talian saudaranya bagaimana dan seperti apa bisa satu Lebaran lagi juga enggak kelar. Pokoknya yang muda-muda jatuhnya sepupu dan yang yang gaek panggilnya etek.

Saya bukan orang yang mudah berbincang dengan orang lain. Bukan karena saya sombong, angkuh, atau apalah namanya (percayalah saya enggak punya apa-apa untuk diangkuhin) tapi karena saya sendiri bukan orang yang ekstrovert. Kalau sudah dekat saya memang bisa terbuka- seterbuka-bukanya orang. Bisa hal-hal remeh saya ceritakan dari diri saya, tapi untuk menyapa orang duluan? basa-basi sosial yang tak tentu arah? Apalagi berbicara langsung dihadapan banyak orang? Arghh lupakan! Saya lebih baik mengurung diri di kamar.

Dan menurut saya kewajiban untuk ngobrol dengan ini ada baik dan buruknya sih. Well, kebanyakan sih baik. Karena jadi tahu kondisi keluarga yang ada, memperjelas siapa anak siapa dan dari mana (wihh, ini sih paling wajib banget saat masuk ke kawasan kampung ini. No strangers allowed banget deh!), buruknya ya paling jadi ada kesempatan buat nanya-nanya gak penting "kapan kawin? beranak? nguliahin anak? mantu?" itu tuh dosa yang paling besar dari silaturahmi keluarga.

Tapi, hal yang paling mengejutkan untuk saya adalah beberapa orang Minang ternyata ada yang percaya dengan hitungan hari dan bulan untuk menentukan hari bagus. Saya enggak bohong! Saya pikir pikiran klenik dan mistis cuman miliki orang jawa semata, ternyata di Kota Padang Panjang yang berslogan "Serambi Mekkah"-nya Sumatera Barat ini juga percaya hal-hal tidak masuk akal tersebut. Di daerah lain, bahkan ada namanya Sungai Terlarang, dipercaya sungai ini tidak boleh dipakai memancing. Jika tetap memancing, hasil pancingan yang didapat bisa menimbulkan bahaya. Well, at least, cerita klenik terbesar yang mereka punya jelas legenda "Malin Kundang". Cerita karangan rakyat yang berujung jadi "legenda" ini memiliki maksud yang baik, supaya tidak durhaka dengan orang tua.

Walaupun memahami adat yang ada di kampung halaman ini sedikit aneh dan membingungkan (enggak sedikit deng, teramat sangat membingungkan), tapi jujur saja libur lebaran kali ini adalah liburan terbaik saya di 2017. Saya berkesempatan menjelajah area wisata terbaik yang ada di Sumatera Barat, belajar bahasa Minang, bisa berbincang dengan warga lokal. Dan semua bisa terjadi karena minimnya koneksi internet dan dinginnya cuaca di sana.

Saran saya, bagi kalian para manusia urban; orang-orang yang enggak bisa lepas dari koneksi internet 24 jam, minum starbucks setiap pagi, selfie tiap habis nge-gym, jika kalian punya kampung halaman saya sangat sarankan untuk pulang kampung. Bukan untuk meramaikan isi Instagram dengan foto-foto kampung halaman (walaupun saya juga melakukan itu sih) tapi mempelajari asal-usul keluarga bisa membuka cakrawala diri. Walaupun sudah sering jalan-jalan kesana-kemari, sampai Eropa atau Tanah Suci, bagi saya mengetahui siapa asal usul diri membantu kita menerima kekurangan dan kelebihan diri sendiri.  

"The best day of your life is the day when you were born and the day you found out why"



Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Bagi saya, hal yang paling menyenangkan saat mengunjungi kota atau negara asing ketika bisa mencicipi makanan khas daerah tersebut. Karena, lewat makanan saya bisa belajar banyak soal budaya dan tipikal masyarakatnya. Dan Nepal memiliki banyak kesamaan rasa dengan masakan Indonesia, terutama Sumatera.

Mirip dengan makanan India, makanan Nepali banyak menggunakan rempah-rempah sebagai bahan utama. Rasa pedas dan gurih mendominasi kuliner Nepal. Berikut adalah lima makanan Nepal yang saya yakin pasti cocok dilidah orang Indonesia.

1. Dal-Bhat-Tarkari
a handful of Dal Bhat Tarkari is never failed to put my smile cheek to cheek
Dal Bhat adalah sebuah set nasi tradisional Nepal. Dal Bhat sendiri artinya adalah sup Dal dan Nasi. Hampir mirip dengan menu makanan India kebanyakan yang dihidangkan di piring lebar, nasi di tengah, dan lauk pauk dipinggirnya. Setiap orang memiliki seleranya tersendiri mengenai isi dari seporsi Dal Bhat. Tapi biasanya, di dalam satu piring Dal Bhat terdapat nasi briyani, kari sayur atau kari ayam, sup Dal (semacam sup sayur-sayuran pedas), acar timun, yogur kambing, brokoli goreng, dan keripik. Tapi, tiap warung yang saya datangi memiliki kombinasi nasi yang berbeda, yang pasti akan selalu pakai sup Dal dan Nasi.
Umumnya se porsi Dal Bhat Tarkari di banderol dengan harga 350 - 400 Nepali Rupee, atau 500 Nepali Rupee kalau makannya di restoran yang cukup terkenal. Ini salah stau menu yang saya rasa cocok dengan nafsu makan orang Indonesia. Porsinya besar, banyak lauk, mengenyangkan, dan rasanya mirip-mirip dengan makanan nasi Padang. 

2. Momo
I want to try Momo, but I have a doubt that it has pork in it. So this is Momo in display (myrepublica.com)

Kalau Anda pernah makan Gyoza di warung makan Jepang atau Dumpling di Restoran China, maka Anda pasti tidak akan asing dengan Momo. Makanan yang di masak dengan cara di kukus lalu di goreng. Tapi tiap restoran atau toko punya caranya sendiri-sendiri.
Isian yang ada di dalam Momo biasanya adalah campuran daging mulai dari ayam, babi, kerbau, dan juga kambing dengan kombinasi keju kaming dan sayuran. Tapi dibeberapa tempat di Kathmandu lebih banyak yang isinya daging ayam dengan rempah-rempah atau adapula menu vegetarian yang berisi kentang tumbuk. Sama seperti Gyoza, menyantap Momo juga harus ditemani dengan saus khusus. Umumnya Momo ditemani dengan saus tomat tapi jika adapula beberapa tempat yang menawarkan Momo dnegan ditemani kuah kari. Mengapa? Karena kuah kari yang ada di kawasan Asia Selatan tidak pernah salah.

3. Mutton Curry
A classic way to enjoy Mutton Curry. With Roti Canai.

Mutton adalah daging kambing. Dan seperti kita ketahui kalau daerah Asia Selatan ini banyak umat Hindu yang tidak bisa makan daging sapi sehingga banyak menu makanan mereka yang didominasi dengan daging kambing. Kari Kambing adalah salah satu andalannya. Tidak hanya di Nepal tapi juga di India. Sebenarnya rasa kuah karinya hampir-hampir sama, tapi menyantap langsung dari negara asli lebih menyenangkan bukan?

4. Thukpa
Mee Tek Tek nya Nepal, hehe

Kalau di Indonesia, mungkin Thukpa ini adalah mie tek-teknya Nepal. Karena isi dari noodle sup ini rempah-rempah bening dengan sayur mayur. Pas saya riset makanan ini di Google ternyata menu ini aslinya dari Tibet tapi cukup populer di Nepal. Mungkin karena rasanya cukup pedas dan hangat untuk disantap malam hari membuat menu ini populer juga di Nepal. Mungkin ya!

5. Masala Chai
My day in Nepal always start with Masala Tea

Teh salah satu minuman terpopuler di dunia. Mkaa tidak mengherankan ketika saya sampai di Nepal, saya mendapatkan cara penyajian teh khas negara ini. Kalau dilihat dari luar Teh Masala ini mirip dengan Milk Tea kebanyakan, tapi pas dicoba ada rasa rempah-rempah yang turut diaduk didalam teh. Rasanya jadi sedikit seperti jamu dengan efek hangat. Banyak yang mengatakan kalau teh ini yang biasanya dibawa para Sherpa menemani para pendaki Everest untuk menghangatkan tubuh. 



Share
Tweet
Pin
Share
1 comments

Annapurna Range View dari Bukit Sarangkot pukul 6 pagi

Berbukit dengan iklim tropis, itulah gambaran biologis Nepal dari kacamata saya. Negara yang dikelilingi pegunungan Himalaya ini menjadi tempat yang penting bagi umat Buddha, pasalnya di daerah yang dihimpit datarn China dan India inilah sang Buddha, Siddartha Gautama lahir. Selama ribuan tahun Nepal telah menjadi banyak tujuan religius bagi para biksu dan pemuka agama, Namun, memasuki abad ke-20, Nepal lebih dikenal sebagai gerbang utama bagi para pecinta alam yang ingin menaklukan puncak gunung Sagarmatha atau lebih dikenal, Everest.

Saya sendiri bukan orang yang senang mendaki gunung, bahkan saya bukan tipe orang yang menikmati liburan ke gunung. Nuansanya yang tenang dan senyap buat saya sangat menakutkan.
Adapun keputusan saya untuk terbang ke Nepal semata karena tiket murah dan ketidakmampuan saya untuk menolak ajakan jalan-jalan.

Menjelajahi negara yang punya perbedaan bahasa, makanan, dan wajah selalu menarik ego penjelajah gadungan seperti saya. Dan, surprisingly, Nepal memiliki vibe yang  serupa dengan Indonesia. Wajah masyarakat di dominasi oleh paras India dan China dan percampuran diantara keduanya, seperti apa bentuknya? Ya, kira-kira seperti wajah orang Indonesia kebanyakan. Makanan mereka juga kaya bumbu rempah-rempah, satu piring Nepali Plates itu rasanya mirip dengan satu piring menu makanan Padang. Bedanya mereka tidak menggunakan daging sapi di dalam masakannya. Masalah bahasa? Nepal punya gap kefasihan bahasa Inggris yang sangat jauh. Jika Anda bertemu dengan orang Nepal yang bisa berbahasa Inggris, dia pasti bisa bicara dengan sangat fasih, tapi jika Anda bertemu dengan orang yang tidak bisa berbahasa Inggris, mereka benar-benar tidak mengerti apapun yang Anda coba sampaikan.

Salah satu pengalaman saya bertemu pertama kali dengan orang Nepal adalah di pesawat terbang menuju Kathmandu dari Kuala Lumpur. Pria asli Nepal ini duduk disebelah saya dan berusaha membuat percakapan dengan menggunakan bahasa Inggris, dan ketika saya menjawab dengan bahasa Inggris lagi dia langsung memasang raut wajah menyesal karena tidak mengerti sepatah katapun yang saya lontarkan.

"I'm from Jakarta, where do you come from?"
hening
"home, where do you come from?"
"Nepal"
"Yes, i know, but what city? are you originally from Kathmandu?"
hening
"Your house"
"my house"
"Yes, where?"
hening
40 menit kemudian, dia kembali mencoba berinteraksi
"Can you speak Melayu?"
(Allahu akbar, capek-capek ngomong tau-taunya dia bisa ngomong Melayu)

Tapi di luar kendala yang enggak kendala-kendala banget tersebut, bagi saya pelarian saya ke Nepal merupakan keputusan terbaik kedua di 2017 (yang pertama adalah keluar dari kantor dan memutuskan untuk menjadi full time freelancer social media dan PR Digital. Yes, i am join forces with those kind of millenials).

Jadi, kalau Anda seperti saya, suka jalan-jalan tapi cemen untuk tracking apalagi climbing berikut beberapa tempat yang wajib Anda kunjungi selama di Nepal.

1. Boudhanath - Swayambunath - Pasupathinath
Swayambunath
Begitu landing tiga tempat inilah yang jadi tujuan utama dan pertama saya di Kathmandu. Karena jika Anda cari di Google, "must visit place in Kathmandu" tiga kuil ini berada diurutan teratas. Dan layaknya turis gadungan kebanyakan saya nurut saja dengan rekomendasi Google. Tapi diluar itu, ketiga kuil ini letaknya tidak terlallu jauh antara satu dengan yang lainnya, jadi masuk akal jika hari pertama saya habiskan untuk menjelajahi tiga kuil ini.

Boudhanath
Boudhanath dan Swayambunath adalah kuil umat Buddha, sedangkan Pasupathinath adalah kuil umat Hindu. Perbedaannya sudah sangat terlihat begitu Anda memasuki daerah ini. Di Boudhanath dan Swayambunath Anda akan disambut oleh kuil dengan atap emas yang dihiasi wajah Buddha di depannya. Kebanyakan orang yang berada di kuil ini pun kebanyakan masyarakat berwajah China ataupun Tibet. Sedangkan Pasupathinath, Anda akan melihat sebuah komplek candi-candi kecil dengan sungai Bagmati di hadapannya yang biasa dijadikan tempat kremasi. Dan tempat ini dipadati oleh para petapa Hindu di dalamnya.
Pashupatinath (nepaladvisor.com)

Untuk berkunjung ke temapt-tempat ini sebenarnya ada angkutan umum dari Thamel tapi karena waktu saya terbatas, maka saya memilih menyewa mobil dari tempat kami menginap untuk mengunjungi tempat-tempat ini. Harga normal yang ada di website untuk menyewa taksi sekali jalan adalah 900 - 1000 Nepali Rupee, dan untuk menyewa seharian seharga 2000 - 2500 Nepali Rupee (atau setara dengan 200 ribu - 250 ribu Rupiah). Harga yang cukup wajar untuk orang yang enggak punya waktu banyak seperti saya. Tapi tenang saja, hampir semua kuil buka dari pagi hingga malam hari. Tapi Pashupathinath terkadang ditutup untuk umum pada pukul 5 sore.


  • Swayambunath. Ticket Fee: 200 Nepali Rupee
  • Boudhanath. Ticket Fee: 250 Nepali Rupee
  • Pashupatinath. Ticket Fee: 1000 Nepali Rupee. 



2. Kathmandu Durbar Square

Durbar Square near Kal Bhairav, where people confess to their sins. And yes, its always crowded in here!

Seperti yang saya katakan di awal, Nepal sudah ada ribuan tahun lamanya, bahkan sebelum Masehi. Maka tidak mengherankan ketika kota sebesar Kathmandu saya dipadati dengan tempat-tempat kaya sejarah di dalamnya. Dan salah satu komplek terluas di Kathmandu dengan dipadati dengan kuil-kuil Hindu bersejarah adalah Kathmandu Durbar Square. Setidaknya ada 43 artefak yang ada di Durbar Square ini.  Di tiap kuil ataupun artefaknya memiliki cerita dan lokasi tersendiri. Karena lokasi ini dipadati dengan turis mancanegara sehingga banyak pedagang, toko suvenir, dan penduduk lokal yang tinggal di sekitar Durbar Square. Anda harus benar-benar jeli dan memegang peta instruksi yang diberikan saat membeli tiket agar tidak tersesat. Tapi, tenang saja, ada pemandu lokal yang bisa Anda sewa untuk menemani Anda berkeliling Durbar Square. Dengan harga 500 Nepali Rupee Anda bisa berkeliling sambil mempelajari kebudayaan Hindu dari sini.
Yang unik dari sini adalah tiap tiket yang Anda beli bisa berlaku untuk dua kali kunjungan di dua hari berbeda. Karena bisa dibilang tempat ini cukup luas untuk dijelajahi dalam satu hari. Anda harus meminta stempel di Kathmandu Metropolitan City di bagian tiket sebelum jam 5 sore agar tiket yang Anda pegang bisa digunakan untuk hari lain.

  • Kathmandu Durbar Square. Ticket Fee: 1000 Nepali Rupee.


3. Garden of Dreams
One out f six view in Garden of Dreams (kathmandu.im)

Jika Anda menginap di daerah Thamel (dan kemungkinan besar Anda pasti akan menginap di jantung kota turis ini), maka kunjungan ke Garden of Dreams bisa jadi pilihan Anda saat jalan-jalan sore di sekitar Thamel. Garden of Dreams, bagi saya pribadi seperti paradoks yang menyejukkan di tengah Thamel. Karena saat Anda sampai di Thamel, hawa panas, kotor, dan debu ada disekitar Anda. Dan memasuki taman ini Anda merasa di tengah Eropa yang dikelilingi tumbuhan tropis yang eksotis. Bagi saya kunjungan ke tempat ini sih optional, tapi percayalah Anda akan sangat butuh melihat pemandangan hijau di tengah gersangnya Thamel. Di dalamnya juga ada cafe yang cukup memadai untuk menemani Anda santap sore.


  • Garden of Dreams. Ticket Fee: 200 Nepali Rupee.Opening Hours: 9 AM - 10 PM
4. Sunrise in Pokhara

Saat Anda mengujungi Nepal dan tidak ada rencana untuk mendaki gunung (karena ada banyak pilihan pendakian di Nepal, tidak harus Everest, tapi bukit lainnya juga bisa didaki), saran saya adalah mengunjungi Pokhara, Nepal. Pokhara itu seperti Puncak bagi Jakarta (yang dimana Thamel adalah Jakarta, lebih buruk dari Jakrta bahkan). Udaranya cenderung lebih sejuk, pemandangannya jauh lebih bagus, dan di sini lebih banyak penginapan mewah. Di jalan utama Lakeside Pokhara, mereka memiliki rentetetan toko, resto, dan butik, layaknya di Seminyak Bali. Dengan suasan Hindu yang kental, dan jalanan yang baru saja terguyur hujan ketika kami datang, maka untuk sesaat saya merasa tengah jalan-jalan di Seminyak.
Dan saat membicarakan Pokahara sebenarnya banyak yang bisa dikunjungi dan dilakukan (mungkin akan saya ceritakan di post lainnya). Tapi salah satu hal yang wajib Anda lakukan di Pokhara adalah naik ke Sarankot dan menyaksikan matahari terbit dari atas bukit. Well, sebagai orang Indonesia yang pernah ke Bromo dan punya kampung halaman di Bukit Tinggi sebenarnya pemandangan yang ditawarkan biasa saja. Yang bikin istimewa adalah pemandangan rentetan gunung es sebagai latar belakang foto. Selebihnya, hampir sama semua!


  • Sarankot Hill. Ticket Fee: 200 Nepali Rupee per car. Recommendation: 4AM - 6AM
    • Taxi from hotel: 1500 Nepali Rupee. Please make an appointment a night before you go.

5. Lake View
One of the reason people visit Phewa Lake because it has temple in the middle of the lake (the smokey one is the temple land) and also they have a stair to the top of the hill to the Peace Stupa

Ada banyak danau di daerah Pokhara, mulai dari Phewa Lake, Begnas Lake, dan Rupa Lake. an menurut saya semuanya memiliki keindahan yang serupa. Tapi jika Anda terbatas oleh waktu dan ingin menikmati keindahan danau di Pokhara, Phewa Lake bisa jadi pilihannya. Menagapa? Dekat dengan pusat kota dan juga tempat-tempat menarik lainnya yang ada di Pokhara. Saat di Phewa Lake Anda bisa menyewa sebua perahu yang bisa mengantarkan Anda berkeliling danau. Saya memutuskan menyewa perahu untuk alasan, ya, apalagi kalau bukan foto-foto. Menurut saya, kunjungan ke danau bisa menjadi pilihan yang sempurna untuk menutup hari Anda di Pokhara sebelum kembali lagi ke Kathmandu atau beranjak ke kota lainnya.

  • Boat in Phewa Lake. Ticket fee: 500 Nepali Rupee. Recommendation hours: 4 PM - 6 PM. The sun about to set down and it is very beautiful.
Jadi, jika Anda baru saja mendapatkan tiket murah AirAsia ke Nepal dalam kurun waktu kurang dari seminggu, mungkin lima tempat diatas bisa jadi pilihan Anda selama di sana. Dan apapun yang ingin Anda lakukan di Nepal, cobalah untuk menghargai tempat-tempat suci yang ada di sana, karena tidak semua tempat yang "instagramable" itu layak masuk instagram.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Salah satu hal yang saya nikmati saat berlibur adalah membuat itinerary selama di tempat liburan. Dan karena kami berencana tinggal di Nusa Ceninngan, maka saya pun bersusah payah mencari info tentang tempat makan yang enak selama di sana. Mungkin karena pulau ini tergolong kecil dan agak sulit untuk di lalui, (baca usaha saya ke Ceningan di sini) maka tidak terlalu banyak informasi restoran di Nusa Ceningan. Kebanyakan food blogger membahas kuliner yang ada di Nusa Lembongan yang memang lebih banyak pengunjungnya.

Tapi bukan berarti mencari makan di Nusa Ceningan perkara sulit. Syukur alhamdulilah saya sempat dapat beberapa daftar tempat makan di pulau yang hanya bisa dilalui dengan "jembatan cinta" ini. Dan dari sekian banyak yang saya list, sayangnya saya cuman berhasil mencicipi ke dua tempat saja. Bukan karena mustahil untuk ditempuh, tapi karena sudah lelah bermain di Nusa Penida dan tempat lainnya, kami memilih makanan yang disediakan di Le Pirate Ceningan. Tapi Bagi kamu yang ingin berlibur ke Nusa Ceningan, berikut lima tempat makan yang asik di Nusa Ceningan.

1. The Dungki Bendega Resto

Sayangnya saya tidak berhasil mencapai resto ini walaupun sudah banyak membaca dari review di Trip Advisor dan tempat review resto lainnya kalau tempat ini bagus. Tidak seperti kebanyakan resto lainnya yang berada di tepi pantai, The Dungki Bedega Resto ini terletak di tengah jantung pulau Nusa Neningan. Tidak jauh dari Blue Lagoon, restoran yag diperkasai oleh seorang chef yang sudah 15 tahun menggeluti dunia kuliner dengan menjadi chef hotel bintang lima, I Kadek Astawa. Banyak review yang mengatakan kalau menu Pork Ribs dan Rendang menjadi highlight liburan kuliner bagi banyak orang. Buat kamu yang baru akan menuju Ceningan, pastikan resto ini masuk jadi itinerary ya!

2. Next Level

Letaknya persis disebelah hotel kami di Le Pirate Ceningan, tapi sekali lagi entah kenapa saya dan dua teman pemalas saya lupa menyambangi tempat ini. Tapi, dari Le Pirate Ceningan, saya bisa melihat cafe yang letaknya di lantai dua ini dengan jelas. Dari jauh sih, saya bisa lihat kalau tempat ini punya atmosfer yang santai dan #GoodVibeOnly. Dan dari review yang ada di social media, saya bisa bilang kalau restoran ini cocok disambangi sore hari sebelum sunset. Karena letaknya yang tidak jauh dari pinggir pantai dan cukup, membuat Next Level Ceningan memiliki pemandangan 360 derajat yang cukup memukau. Desain tempat yang cukup hippies, bisa membuat tempat ini salah satu spot untuk OOTD juga.
Untuk pilihan makanan sepertinya hampir mirip dengan resto yang lain, menyediakan pilihan makanan mulai dari Western dan juga Asia. Tapi, tempat ini memang paling ramai dikunjungi pada malam hari, karena selain sebagai restoran Next Level juga salah stau spot favorit para turis untuk bersantai dengan beer dingin ataupun minuman lainnya.


3. Sea Breeze Ceningan

Jauh sebelum saya berangkat ke Nusa Ceningan, Sea Breeze sudah masuk daftar wajib kunjung saya. Karena saat saya melihat foto-foto yang mereka unggah ke Instagram (@seabreezeceningan) saya langsung jauh hati. Saya bilang ke kedua teman saya, "kita wajib ke sini". Letaknya persis dipinggir laut Nusa Ceningan, dekorasi restoran ini pun dibuat sangat menyenangkan. Dua buah ayunan menghadap laut dan juga sebuah hammock yang diletakan di pinggir laut membuat saya kepincut. Hehe.
Untuk makanan yang ditawarkan cukup beragam, sejujurnya lebih beragam dibandingkan yang ada di hotel kami, Le Pirate Ceningan. Harganya pun cukup masuk akal. Pada kesempatan itu, saya makan Chicken Golden Cheese yang berisikan ayam fillet yang diisi keju dan dihidangkan dengan saus keju dan kentang. Porsi yang cukup besar, makan sore menuju malam yang sangat pas buat saya yang kelaparan setelah bermain di Nusa Penida seharian dan malas mencari makan malam. Kedua teman saya memilih menu yang lebih simpel seperti Nasi Goreng Babi dan Nasi Goreng Spesial, dengan tambahan Gado-Gado dan juga Garlic Bread (iya, saya tahu, benar-benar pilihan yang aneh untuk makan malam). Range harga yang ditawarkan mulai dari Rp. 20,000 (untuk menu breakfast) sampai Rp. 80,000. Kami yang cukup geragas ini dengan menu segitu banyak dan dua botol beer menghabiskan tidak sampai Rp. 300,000.


4. Le Pirate Ceningan

Wah, ini tempat memang spesial banget. Bukan cuman dari dekorasi penginapannya saja, tapi juga pilihan menu yang ditawarkan juga cukup unik. Menu makanan yang ditawakan kebanyakan di dominasi dnegan menu-menu Mexico. Contohnya, untuk menu sarapan mereka menyediakan semacam burito yang berisi sosis chorizo dengan avocado dan red bean, super Mexico bukan?
Tapi bukan berarti restoran ini tidak memiliki menu lainnya. Menu Western seperti Bacon and Egg atau Spaghetti Carbonara juga tersedia.
Untuk kamu yang datang dengan pasangan, di malam hari resto ini sangat cantik untuk dinner romantis. Dengan pemandangan laut Nusa Ceningan yang temaran, dan pilihan wine dan coack tail yang beragam, Le Pirate Ceningan bisa jadi pilihan yang sempurna untuk kamu dan pasangan.


5. Ceningan Cliff Restaurant

Arrgghh, ini juga salah satu restoran yang saya selakan tidak di kunjungi. Ceningan Cliff Restoran yang terletak di sebrang persis dari Nusa Penida ini memiliki pemandangan yang cukup menyenangkan. Dari beberapa review yang saya baca dan saya amati, tempat ini sangat tenang dan eksotis. Walaupun katanya arah ke tempat ini cukup mendaki tapi semua itu sepadan dengan pemandangan yang ditawarkan.
Untuk makanan, dari yang saya baca sih tidak ada yang luar biasa. Bahkan beberapa ada yang sempat memberikan review jelek karena menemukan potongan plastik di minuman mereka (ouch!)


Dan kalau boleh beri sedikit tipa, lebih baik Anda juga membawa bekal jajanan sendiri selama berada di Ceningan karena untuk pertama kalinya saya datang ke sebuah pulau yang belum tersentuh Alfamart atau Indomart yang buka 24 jam. Jadi kalau-kalau tengah malam merasa lapar (seperti teman saya April yang enggak bisa berenti nyemil), beli jajanan seperti chips atau cokelat bisa jadi penolong!

Jadi, udah tau dong yaa itinerary makan saya selama di Nusa Ceningan, Semoga saja kamu bisa mewujudkan semuanya dan bisa ceritakan kembali ke saya apakah ke-lima tempat ini cukup pantas untuk dikunjungi atau tidak. Atau mungkin kamu punya rekomendasi sendiri, sok atuh di share di komen biar saya juga bisa baca!

all photo credit: TripAdvisor.com, instagram
Share
Tweet
Pin
Share
3 comments
Older Posts

Gita Adinda

Gita Adinda
Freelance writer full time day dreamer. Passionate story teller and traveler. Very critical about politic and music. Love sleeping and good food. True Cancer Signs.

About Me

Gita Adinda
View my complete profile

Blog Archive

  • ▼  2020 (1)
    • ▼  December (1)
      • BEING A NEW MOM IN THIS 2020
  • ►  2019 (2)
    • ►  July (1)
    • ►  February (1)
  • ►  2018 (1)
    • ►  December (1)
  • ►  2017 (27)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  July (2)
    • ►  June (3)
    • ►  April (5)
    • ►  March (4)
    • ►  February (4)
    • ►  January (7)
  • ►  2016 (3)
    • ►  August (1)
    • ►  April (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2015 (1)
    • ►  November (1)
  • ►  2014 (2)
    • ►  August (2)

Follow Me at




Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates