Powered by Blogger.

GA

Pages

  • Home
  • Let's Partner Up!


clean slate definition. A new start; especially to make a new start by clearing the record. This phrase comes from the use of chalk and slates in classrooms in the past. By wiping the slate clean, a student could remove any evidence of a mistake.

Clean Slate atau awal yang baru setelah menghapus segala kesalahan yang ada. Momen "clean slate" biasanya hadir di idul fitri. Dimana banyak orang yang saling meminta maaf dan memaafkan melalui pesan broadcast dan dipercantik dengan ayat-ayat Quran atau hadist di dalamnya. Banyak yang merasa momen tersebut hanya ritual sentimental semata, mengikuti kebanyakan orang yang juga melakukan hal yang sama dan kalau tidak ikut melakukannya ada perasaan penghakiman dari orang sekitar. Tapi, apakah kita bisa benar-benar memaafkan, dan mungkinkan memulai segala sesuatunya "clean slate".

1. Maaf

Sebelum kita membicarakan soal awal yang baru, pertama-tama kita harus paham betul apa sih guna dan fungsinya meminta maaf dan memaafkan. Jika kita ambil contoh dari broadcast message yang disebarkan tanpa pandang bulu jelas bukan bentuk meminta maaf yang sebenarnya. Karena pada dasarnya orang meminta maaf karena ia sadar telah berbuat salah pada spesifik satu orang atau segerombol orang. Permintaan maaf lewat broadcast message, menurut saya, salah stau bentuk keacuhan yang paling dasar. Menganggap kita telah membuat salah kepada semua orang yang ada di kontak kita, dan berharap setiap orang yang memaafkan secara personal.
Maaf dan memaafkan, sekali lagi bagi saya, adalah hal yang teramat personal. Jarang rasanya seseorang bisa membuat satu atau dua kesalahan yang sama serentak pada segerombolan orang (kecuali Anda koruptor atau tukang bom bunuh diri, well, mungkin saja sih). Layaknya ijab kabul pernikahan ataupun permohonan pennambahan tengat waktu pembayaran hutang, meminta maaf harus diucapkan langsung dari si yang punya salah kepada orang yang ia kecewakan. Masalah akankah permohonan maaf akan diterima atau ditolak atau mungkinkan berdampak langsung akan hubungan interpersonal keduanya itu hal yang lain lagi. Tapi, menurut saya, untuk memulai "clean slate" yang hakiki, haruslah diawali dengan pengakuan diri kalau telah berbuat salah pada orang lain, dan meminta maaf pada orang tersebut.

2. Ubah

Awal yang baru hanya akan terjadi jika ada sesuatu yang baru dilakukan. Setelah mengakui kalau diri ini tidaklah sempurna dan memohon maaf bagi yang telah dikecewakan, tahap selanjutnya yang harus dilakukan adalah mencoba mengubahnya. Mengubah cara komunikasi dengan teman yang baru saja bertengkar dengan intonasi yang lebih menyenangkan. Dianggap terlalu posesif oleh pasangan, coba belajar untuk sedikit cuek atausetidaknya belajar menyembunyikan rasa posesif. Kecewa dengan hasil review performance di pekerjaan, coba untuk perhatikan kritik yang ada dan menjadi cambuk untuk mengubahnya.
Saya percaya sih, setiap orang berbeda-beda sifatnya dan kita tidak bisa berharap seseorang berubah hanya untuk memuaskan keinginan kita semata. Tapi, saya juga percaya akan niat baik seseorang yang ingin membahgiakan pasangan, teman, atau keluarganya dengan menunjukkan kalau ia berusaha berubah. Karena pada akhirnya, apa yang bisa kita nilai dari hubungan antar sesama manusia ini adalah usahanya.

3. Berdamai

Hal yang paling membuat seseorang sulit untuk memulai sesuatu yang baru karena kita sendiri masih terkenang akan kesalahan-kesalahan kita di masa lampau. Sesekali teringat rasanya tidak masalah, justru menurut saya harus terus ingat sebagai pembelajaran diri. Tapi, kalau kita sampai tidak mau mencoba hal baru karena takut mengalami kesalahan yang sama malah menjadi musibah. Dalam kasus ini, mencoba berdamai dengan diri sendiri dan masa lalu bisa jadi cara paling ampuh. Mustahil rasanya melupakan keseluruhan kesalahan yang terjadi, tapi dengan menerima kesalahan tersebut sebagai bagian dari cerita masa lalu dan berdamai dengan keadaan yang ada, pasti langkah menuju "clean slate" lebih mudah.

4. Clean Slate 

Setelah semua tahap dijalani, ini saatnya memulai lembaran baru. Slogan Pertamina "dimulai dari nol" akan terasa pas di sini. Memulai pekerjaan baru atau kembali memulai hubungan baru, akan terasa lebih ringan jika semua tahap sudah dilalui. Ada perasaan lebih terbuka dan juga pendewasaan ketika setiap tahap telah dijalani. Tidak hanya untuk orang lain tapi, dan terutama, untuk diri sendiri.

Tapi, diluar kebutuhan untuk memulai sesuatu yang baru dengan bersih adalah sebuah pilihan. Bagi saya tidak semua hal bisa kembali dimulai dengan bersih seakan tanpa noda atau retak yang tercipta. Lagi pula, bagi beberapa orang sulit rasanya berdamai dengan masa lalu atau egonya.

Tapi bukan berarti seseorang tidak bisa memulai sesuatu yang baru, hanya saja jalannya pasti akan lebih berat. Karena, tidak mau munafik, saya juga bukan tipe orang yang mau mengkonfrontasi perasaan bersalah saya kepada orang lain. Cara saya untuk mengembalikan keadaan seperti sediakala adalah dengan lari dari masalah, berdiam diri sampai masalah berlalu, dan jika diperlukan saya akan berkomunikasi kembali degan orang tersebut. Pengecut? Memang! Tapi hingga hari ini, cara itu saya anggap menjadi cara yang paling sehat untuk saya saat ini. Mungkin. Mungkin nanti saya sendiri akan pakai cara ini!

Share
Tweet
Pin
Share
No comments



Mereka bilang saya harus banyak-banyak belajar.
Mereka bilang saya harus lebih banyak-banyak cari pengalaman.
Mereka bilang saya masih muda dan masih panjang perjalanan.
Tapi, beberapa dari mereka mempertanyakan "mau sampai kapan".

Mereka bilang kamilah generasi penerus bangsa.
Sedangkan beberapa dari mereka mengatakan tidak ada yang bisa diharapkan dari kami.
Mereka bilang usia ini akan menyenangkan, penuh tantangan, dan juga petualangan.
Tapi ada yang bilang usia kami harus baik-baik jaga nama dan sikap agar tidak susah di hari tua.

Setidaknya itulah yang mereka bilang ketika saya (atau mungkin kebanyakan orang lainnya)  bilang kalau usia saya 24 tahun. Banyak hal yang mereka harapkan dan nantikan tapi banyak hal pula yang mereka tuntut dari kami. Di satu sisi mereka nantikan ide-ide baru dari otak segar kami, namun di sisi lain mereka harapkan adanya kepatuhan dan ketaatan pada "aturan lama" saat proses pengerjaan ide kami. 

Contoh, sebagai penulis, saya diharapkan bisa memberikan gaya penulisan dan informasi yang digarap bisa lebih menarik dan dinamis, tapi di sisi lain saya masih diharapkan untuk penuhi "index prestasi" dan banyak lagi tuntutan "Perusahaan". Makanya, enggak mengherankan tho, ketika generasi saya banyak memilih membuka usaha sendiri dan menjadi CEO muda. Tanpa mau sedikit pamer, tapi sebuah artikel bahkan pernah mengatakan kalau, dekade ini adalah dekade-nya lahirnya CEO muda.

TAPI!!! (dengan penuh emosi dan sepenuh hati) sukses di bidang pekerjaan enggak membuat siapapun yang berada di usia ini bebas dari tuntutan masa depan. Punya usaha beromset ratusan juta, karya yang udah diakui publik, duduk di jabatan terbaik di perusahaan ternama, enggak bikin kami mendapatkan tiket bebas pertanyaan tahunan "kapan menikah", bagi yang sudah menikah "kapan punya anak", bagi yang sudah menikah dan punya anak "kapan adiknya lahir", baru gede dikit anaknya "kapan masuk sekolah", "kapan lulus sekolah", "kapan kerja", "kapan nikah", "kapan punya anak".... daaaan teruuuuuuss begitu.... enggak akan selesai...sampai Malaikat Israfil meniupkan sangsakala di hari akhir.

Di satu sisi mereka mengharapkan kami jadi manusia yang internasional, kenal berbagai orang dari berbagai bangsa, wawasan seluas cakrawala, tapi ujung-ujung yang mereka minta.. ya.. itu-itu juga. Yang mereka tutut itu ya hal yang sama juga. 25 tahun itu sudah menikah, usia 27 tahun itu sudah punya anak, sebelum 30 tahun sudah cicil rumah pribadi dan punya kendaraan pribadi. Kalau satu aja enggak terpenuhi, ya dinilai failed!

Bagi saya pribadi, dilema di usia "twenty-something" ini lebih buruk dari fase puber atau fase apapun. Karena saya merasa di usia inilah dimana "harapan" sudah harus bertemu dengan "kenyataan". Sebuah tulisan semasa SMA yang menyadarkan saya. Di dalam tulisan itu, semua janji muda saya sudah mendekati masa deadlinenya. Disitu saya menuliskan apa saja yang harus sudah saya capai sebelum saya menginjak usia 25. Dari sepuluh hal yang saya rencanakan (yang dimana, diantara rencana itu adalah "menikah" dan "menulis sebuah buku"), hampir semuanya tidak saya lakukan, tapi hanya satu yang benar-benar saya sedihkan, yaitu "Mengunjungi New York (bekerja ataupun kuliah)".

Kalau saya mau jadi bahan pikiran, pasti saya bisa depresi berat. Dari 10 tahun yang lalu, tidak banyak yang berubah dari diri saya, saya masih berada di kamar yang sama, dengan meja belajar yang sama, sedangkan pencapaian saya masih nihil. Tapi saya ingat kalimat dari teman kerja saya yang pernah mengatakan "sudahlah, Git, terkadang hidup lebih baik tanpa ada harapan," 
he-he-he.
Memang sih, ujung-ujungnya saya menjalani hidup yang penuh tuntutan di usia "twenty-something" jadi tanpa harapan, tanpa alasan, tanpa tujuan. Kalau dalam istilah Latin-nya, saya jadi Carpe Diem atau yang artinya "seize the day" atau "menggapai hari". Mungkin kalau bisa digambarkan, jadi lebih maksimal untuk menikmati dan merayakan apa yang ada di hari ini. Dan saya lebih menyukai menggambarkan usia "twentysomething" sebagai usia Carpe Diem.

Bagus punya rencana jangka panjang sesuai ekspektasi orang tua, tapi jangan lupa juga untuk menikmati harinya, ingat kita baru "twentysomething".



GA//BEDROOM

Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Gita Adinda

Gita Adinda
Freelance writer full time day dreamer. Passionate story teller and traveler. Very critical about politic and music. Love sleeping and good food. True Cancer Signs.

About Me

Gita Adinda
View my complete profile

Blog Archive

  • ▼  2020 (1)
    • ▼  December (1)
      • BEING A NEW MOM IN THIS 2020
  • ►  2019 (2)
    • ►  July (1)
    • ►  February (1)
  • ►  2018 (1)
    • ►  December (1)
  • ►  2017 (27)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  July (2)
    • ►  June (3)
    • ►  April (5)
    • ►  March (4)
    • ►  February (4)
    • ►  January (7)
  • ►  2016 (3)
    • ►  August (1)
    • ►  April (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2015 (1)
    • ►  November (1)
  • ►  2014 (2)
    • ►  August (2)

Follow Me at




Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates